Catatan Akhir Tahun Minimart- 2

Pelatih marah-marah di ruang ganti.

Ganti pembahasan. Ini tentang kelemahan-kelemahan Leo Minimart. Yang kucatat pertama adalah manajemen yang terlalu sederhana. Memang sih, sederhana bukan berarti manajemen buruk, akan tetapi kalau ingin maju  perombakan harus terjadi.

Struktur manajemen yang ada harus lebih diperkuat, pembagian tugas harus lebih rigit, namun tidak menutup kemungkinan saling silang bagi tugas. Dengan begitu setiap lini bisa bekerja dengan maksimal.

Yang sudah ada selama ini, si Boim di plot sebagai kepala toko dengan tugas bertanggung jawab pengadaan barang sekaligus kasir.

Kemudian si Masfur alias Gempur Ma’siatillah sebagai kasir. Dan aku sendiri sebagai manajer, alias PNS- Pengangguran Ning Sukses. Hahaha.

Sayangnya si Masfur mutung, habis lebaran gak kembali lagi. Ok, berarti ini sudah jatahnya aku turun gunung, lihat aja, akhir tahun ini ada super mega proyek. Opo maneh iku? Sabar, nanti akan ada cerita sendiri bab iku.

“Sehebat apapun pemain bola nggak akan mampu bertarung sendirian melawan sebelas orang. Makanya main bola lihat kawan, umpan, umpan dan lihat peluang. Jangan digiring sendiri. Semua sudah dapat tugas masing-masing. Ngerti!!!” bentak pelatih sambil melotot.

Selanjutnya pembukuan, kalau masalah ini terus terang aku tidak ahli. yang penting asal catet aja. Kalo di lampiran ada hasil penjualan perhari, itu sangat mungkin tidak valid, Karena perhitungannya dihasilkan dari logika. Bukan dari total rekam transaksi.

Pengeluaran juga gak pernah dicatat, yang ada catatannya mungkin hanya bayar listrik, itupun dibayar sama konter pulsa. Jadi, gaji pegawe, pengeluaran rumah tangga, dan lain-lain gak jelas jluntrungnya.

Dan seperti yang telah ditulis di atas untuk mengetahui untung rugi dengan cara menghitung aset, gak pake neraka-neraka segala. Dan sebagai warning bagiku bahwa tidak mengetahui pengeluaran adalah bahaya besar untuk sebuah usaha.

 “Kamu bisa aja bikin gol sebanyak-banyaknya ke gawang lawan. Tapi itu sama sekali bukan kemenangan kalau lawan lebih banyak memasukkan bola ke gawangmu. Ngerti!!!” bentak pelatih masih sambil melotot, sampe bola matanya hampir keluar.

Yang ketiga ini paling parah, dan bisa dibilang kesalahan terbesar. Yaitu tidak mengamalkan ilmu, tidak mempraktekkan pengetahuan, sudah tahu tapi diam saja, bisa juga di bilang NATO No Action Talk Only alias ndobos thok.

Sudah tahu 4 strategi pemasaran tapi tidak pernah dipraktekkan,

Pertama Place, lokasi, tempat. Kalau dilihat sekilas lokasi toko mungkin bisa dibilang strategis. Tapi tampilannya itu lho, masak toko jaman tahun 80-an disamakan dengan toko abad 21. Bangunan yang indah jelas penting untuk narik pelanggan.

Makanya sudah saatnya renovasi, masak dari dulu yang digarap interior melulu, betulin rak, beli gondola, ngecat-ngecat yang dalam terus, kapan exteriornya di garap? (pada akhirnya kesalahan yang pertama segera di sadari dan ditebus dengan Face Off Project)

Kedua, Produk. Masalah produk ini bolehlah dibilang cukup. Sebagai parameter dari 100 orang yang masuk ke toko ini yang minta barang dan tidak ada bisa dihitung dengan jari, itupun karena suplier barang yang telat, kosong dari sononya.

Masalah suplier juga kendala, banyak suplier yang menthok sampe Pujon aja, kalaupun sampe ke Ngantang, gak mau berhenti di Mantung.

Tapi lagi-lagi kamu belum mengeluarkan seluruh jurus mengundang suplier. Ayo.. nunggu apa lagi. (kalo yang ini kayaknya baru bisa start tahun depan deh, stelah Face Off Project, mau di kasih nama apa ya? Ada yang usul?)

Ketiga, Price. Harga. He he he, aku patok harga tinggi terus, biar labanya tambah banyak. Ini memang sebuah kesalahan, strategi harga harus dimainkan, jangan main pukul rata aja, harus ada yang ditekan semurah-murahnya sebaliknya yang lain bisa di mark up.

Keempat, Promotion. Promosi, ini lebih parah, sepanjang hayat mengelola toko ini sepertinya sangat minim promosi, bisa dibilang gak pernah.

Plang nama toko aja warisan nenek moyang, sudah karatan dan kelihatan kuno, apalagi media promo yang lain, selebaran, spanduk, juga promo event, door prise, bahkan persen lebaran setahun sekali juga gak. Ora tau babar blasssss.

Harus disyukuri para pelanggan gak pada lari, malah tambah banyak. Sudah saatnya ada feed back, promosi harus segera diprogram, dijadwalkan dan yang paling penting; dilaksanakan!

Harusnya empat jurus marketing  mix ini bisa diluncurkan dalam waktu yang bersamaan, biar lawannya langsung KO, tapi diakui aku masih amatir, belum pro. Jadi satu-satu aja ya, biar gak pecas ndahe

Amukan singa

Berangkat dari kesadaran akan kelemahan seperti yang telah disebut di atas, akhir puasa aku pulang dan pasca hari raya dikeluarkan proyek-proyek berbenah diri. Keluarkan jurus manajemennya, masak diwirid doang. POAC: Planning, Organizing, Action, dan controlling.

Oke ini formulanya

Planning: sejak H+1 mulai buat estimasi biaya/RAB (rencana anggaran biaya), perkiraan waktu pengerjaan, menggambar denah, nyelengi duit, dll.

Organizing: ebes selaku pimpro tak hubungi buat cari tukang dan prepare material

Actuating: ada ceritanya sendiri pas proyek diluncurkan

Controlling: ini juga sama, pas proyek dijalankan dan setelahnya harus terus dikontrol. Semua sip. Tinggal jalan.

Maka pertengahan Nopember Face Off Project Leo Minimart di luncurkan. Saatnya singsingkan lengan baju, ambil pacul dan palu, jangan ragu, hajar saja temboknya ganti yang baru.

Face Off Project adalah aplikasi nyata dari rukun strategi pemasaran Place, tempat harus menarik, cantik, selalu bersih selalu wangi, seperti cewek cantik yang mau diapelin pacarnya, lewat aja udah bikin orang menoleh.

 “Priiitt!!. Peluit tanda babak kedua sudah ditiup. Bola sudah ditendang, dengan semangat baru para pemain segera berlari mengejar bola.

Di luar perkiraan, Face Off Project yang direncanakan selesai dalam Sekitar 14 harian, ternyata molor sampe awal Januari 2008 alias sekitar sebulan lebih.

Mulai dari bongkar tembok ambil kusen lama, bikin cor, dan pengerjaan tembok.

Kemudaian pasang keramik, bikin mainan di atas awning, dan pasang kusen alumunium dan kacanya, terakhir tutup luar.  Lumayan menguras tenaga dan dana.

Tapi ada berita baiknya, meski proyek belum selesai, efeknya dah mulai kelihatan, secara kasat mata penjualan naik. Hehe, ini belum selesai bung, ini baru permulaan.

Face Off Project adalah sebagai permulaan untuk menyeret proyek yang lain-lain. Sudah saatnya menyelesaikan sesuatu yang tertunda. Tidak ada waktu lagi, kalau tidak sekarang kapan lagi.

Para pemain berlari kesetanan seperti tak mengenal lelah, para suporter terus bernyanyi, nyanyikan lagu kemenangan, nyanyikan lagu pembakar semangat.

Bola menggelinding dari kaki-ke kaki, tekling-tekling keras dilakukan untuk selamatkan gawang, kartu-kartu dikeluarkan, hari semakin sore. Gol-gol terjadi.

Ayoo!! Nyanyi lebih keras, larilah yang kencang, tendang bola sekeras-kerasnya. Jebol gawang lawan sejebol-jebolnya, sore ini kita harus pesta gol, sore ini kita harus menang.

Nyanyikan lagu sampai meledak stadionnya, sampai habis suaramu, sampai terdengar ke lagit ke tujuh. “soreee iiinniiii, kita harus menaaangg!!!!”.

Menit-menit akhir

Itulah tadi sekilas cerita tentang Leo Minimart. Singkat memang, dan itulah yang terjadi, aku melihat terlalu banyak angan-angan dan slogan di sana.

By the way itulah gunanya angan-angan, untuk dikejar. Setelah itu tinggal bagaimana menjadikannya sebuah keyakinan yang mantap, yang tidak goyah dan tidak lelah.

Keyakinan yang sempurna adalah omong kosong tanpa tindakan, seperti juga iman yang harus ditancapkan dalam kalbu, dilafalkan dengan lisan dan dilaksanakan dengan aksi kongkrit.

Satu hal lagi yang perlu dicatat, waktu terus berjalan, zaman bergerak. Apa yang dianggap kesuksesan di masa lalu adalah guyonan di masa mendatang.

Seperti kita menertawakan bayi yang sukses melangkahkan kaki mungilnya lalu terjatuh, namun kini beribu langkah kakinya sama sekali tidak membanggakan.

Batu nisan kesuksesan harus segera diukir, dikubur dalam sejarah. Sekali waktu saja kita menziarahinya, untuk kembali melangkah, benarlah seorang yang mengatakan mengingat kesuksesan bagaikan menenggak racun yang meninabobokkan.

Diantara gemuruh nyanyian supporter, seorang anak kecil bertanya kepada embahnya yang nota bene adalah embahnya maniak bola.

“Mbah, kenapa orang-orang nyanyinya ‘Sore ini… kita HARUS MENANG!, bukannya sore ini kita INGIN MENANG, ato yang lain. Kan bola bundar mbah, nggak jelas sapa yang akan menang dan kalah?”.

Seraya tersenyum sang embah dawuh “Rungokno yo le, (inggiih mbaah) untuk memenangkan sebuah pertandingan diperlukan lebih dari sekedar keinginan, akan tetapi dibutuhkan semangat keHARUSan.

Meskipun klub kelas tarkam akan bertanding melawan liverpool atau real madrid, dalam benak pemain harus tetap terpatri semangat HARUS MENANG, nggak ada ceritanya lagu diganti dengan sore ini kita kalah saja, ato sore ini kita draw saja. Itulah semangat bola sejati, camkan dalam benakmu anakku, jangan pernah menyerah……”

Skor akhir pertandingan

Tahun baru telah datang, hari yang baru menunggu-nunggu, mau ngapain lagi tahun ini? Masih banyak.

Kata orang-orang: barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, dia termasuk orang yang rugi besar. Barang siapa yang hari ini sama aja dari hari kemarin, dia termasuk orang yang pak pok tapi rugi waktu, dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, naaah kalo yang ini baru termasuk orang yang untung.

Oh iya, Aku mau memberikan apresiasi penghargaan untuk sang penjaga gawang terbaik kita, player of the year, yaitu Boim.

Im, tanpa kamu bisa jadi kita sudah kebobolan banyak. Tapi tidak dapat dibantah, hidup mati Leo Minimart ada di kamu, bukan aku, yang kerjanya tura-turu dan main-main terus. Salut dan standing applaus buat boim. Plok-plok-plok-plok…

Meski lelah dan didera babak belur cedera, para pemain pulang dengan tersenyum. Menang tipis sudah lumayan. Besok latihan lagi, main bola lagi. Lawan yang kalah juga sama. Besok latihan lagi, main bola lagi. Kalah menang itu biasa, bola masih terus minta ditendang-tendang, kompetisi terus berlajut, piala di pabrik nggak bakal habis untuk di menangkan.

Ya, meski lelah tapi hasilnya sudah mulai kelihatan. Besok bikin proyek lagi, dan jalankan lagi, bikin proyek lagi, jalankan lagi, begitu terus. Untuk menjadi dan memberi yang terbaik, untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Begitu pula para supporter, meski lelah dan serak tenggorokan kebanyakan teriak, pulang dengan senyuman, kalau menang senang, kalau kalah susah, esok hari nonton bola lagi, nanti bila sudah bosan, masih ada generasi-generasi lain yang siap mengganti, stadion gak bakalan sepi.

Ini bukan bisnis besar, dengan aset ber em-em yang akan membuatmu kaya tujuh turunan, naik mobil mewah dengan sopir pribadi, punya rumah di Perumahan elit yang latare ombo, tandurane terong sing nungguk udele bodong.

Ini hanyalah bisnis kecil dengan rutinitas yang membosankan, pagi ke pasar bercampur embok-embok bakul telo, siang sedikit bercanda dengan para loper, malam santai-santai sambil nonton bola, raup untung limapuluh seratus sudah puol.

Kata orang-orang tidak level buat sarjana, ha ha ha. Jangan dengarin tuh bullshit yang gak berguna, karena targetnya adalah untuk menjadi yang terbaik dan itu tidaklah harus besar.

Dalam perjalanan pulang aku melihat anak-anak kecil bermain bola, tak berbaju tak bersepatu dengan gawang batu, tawa bercampur keringat, semangat untuk bikin gol, semangat untuk menang, gairah untuk kemenangan yang ceria.

Sudah, itu saja. Jangan lupa terus berdo’a, biar sukses terus. Hehe he

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *