Sekedar Laku Saja Tak Cukup (minimarket bag-7)

Backpacker Bisnis Minimarket bag-7

Salah satu beda toko biasa dengan minimarket modern adalah promosi, ya mereka gemar menebar promo. Seperti di episode yang lalu, dagangan komplit, tertata rapi, menarik, tak ada artinya kalau tidak laku, sekedar jadi pajangan manis belaka.

Sekedar laku saja juga tidak cukup, harus laris. Usaha sekelas minimarket, tidak nyucuk dengan modalnya, putaran uang harus cepat, wajib laku berkali-kali, meskipun labanya sedikit, beli hanya seribu duaribu, kalau banyak dan berkali-kali, itu yang dicari.

Maka promosi sesederhana apapun patut dilakukan jika kita kepingin usaha kita semakin laku dan semakin maju.

Sebelum mengenal promo konvensional, semacam tebar brosur dan promo berhadiah, banting harga, dll. Yang bisa  lakukan adalah marketing tradisional.

Bagaimana toko jadi ramai, itu saja dulu, belum sampai woro-woro berhadiah, sebab perangkatnya belum mendukung, artinya promosi yang butuh biaya masih saya tunda, maklum modal terbatas.

Tapi saya tidak menyerah begitu saja, usaha meramaikan harus tetap jalan, lantas bagaimana caranya tanpa modal berarti kita masih bisa bikin toko ramai?

Sebelum masuk acara inti, mari di-sruput dulu kopinya…

Kreatifitas kita masukkan

Jual kopi saset plus seduhnya, kopi saset yang biasa dijual 1000an bisa menjadi 3000 sampai 5000. Tinggal menambahkan air panas dan sediakan gelas cup.

Di awal  usaha, demi menambah keramaian, saya bawa kompor ke toko, cukup aneh kala itu, belum ada toko  melayani kopi seduh macam warung, minimarket juga belum.

Sekarang sudah banyak, lebih praktis dan modern, tinggal siapkan air di mesin pemanas, sediakan cup coffe sekali pakai, pembeli meracik minumannya sendiri.

Bikin keramaian, taruh TV di toko.

Dimana ada keramaian, menarik minat orang untuk datang, imbasnya toko jadi kelihatan ramai. (lihat saja kalau ada kecelakaan di jalan, banyak orang yang malah berhenti ingin tahu, bikin tambah macet)

Salah satu upaya meramaikan, saya angkat TV ke Toko, kalau sore, apalagi menjelang malam, rame sekali, nonton Uka-Uka bersama, kalau musim bal-balan meriah sekali.

Orang-orang itu sebetulnya nonton di rumah bisa saja, tapi rame-rame lebih asyik, apalagi kalau sudah lama ditunggu gak gol-gol, begitu terjadi gol, teriak rame-rame GOOOOLL!!! Pecah suara, bikin riuh seisi kampong,

Walaupun sederhana, keramaian semacam itu perlu untuk menarik lebih banyak pengunjung, dari yang asalnya heran ada apa sih orang-orang ini, kok mengganggu ketenangan, eh, lalu ikut nimbrung.

Bila perlu cari satu sudut khusus, taruh meja dan kursi sederhana, sediakan papan catur atau semisalnya, sesederhana itu. Lumayan mendatangkan orang, sekedar nongkrong saja kan nanti beli rokoknya di toko kita, apalagi kalau sudah asyik, bikin kopi, mau pulang nanggung, lapar, buat mie di toko sekalian.

Saat sistem minimarket sudah diterapkan, TV terpaksa harus pindah di luar ruangan, sekalian saja buatkan caffe ringan depan minimarket, sehingga ada yang mengelola sendiri, apalagi sekarang sudah ada wifi, bisa menarik lebih banyak orang.

Kerjasama dengan Suplayer

Biasanya suplayer resmi dari pabrik mempunyai program promo, misalnya dari produk makanan ringan Biskuit Roma mengeluarkan produk baru dengan benefit tertentu contoh: Beli biscuit Roma 2 gratis 1, Aslinya itu promo dari pabrik, sekalian saja minta material promo dan publikasikan secara mencolok seakan itu termasuk program promo dari kita.

Produsen rokok, biasanya sering ada promo, kerjasama dengan mereka.

Kalau hubungan kita dengan supalyer baik, dan kita welcome dengan program promo mereka, pasti ada saja, sering-seringlah tanya “Ada program promo apalagi?”

Nah saat program promo berlangsung buatlah jadi meriah, ada perhatian dengan promo mereka, misalnya barang promonya tak laku, beli sendiri, kan nanti bisa dijual normal, dengan begitu mereka merasa berhasil, tak kapok berhubungan dengan kita jika ada program promo lainnya.

Jajanan Snack Anak-Anak, Serbuuu! dan Seraaaang!.

Kalau ingin ramai dan laris mimimarket kita (he he sudah mulai berani sebut minimarket) pancinglah anak-anak, kalau anak-anak senang ke toko kita, orangtua pasti ngikut, lengkapi jajan anak-anak yang variasinya beraneka ragam dan aneh-aneh bentuknya, niscaya mereka suka bolak-balik ke minimart kita.

Dulu saya membuat paket serbuuuu (serba seribu) dalam satu rak khusus dan seraaaang serba mangatus,(jawa) limaratus perak, ada gambar parjurit tempurnya pakai helm perang bawa senapan sambil tiarap “seraaang!!! ded ded ded…”  (ser-ba m-aang-atus) maksa banget.

Jajan-jajan yang beraneka ragam di rak tersebut harganya mangatus, padahal normalnya ada yang biasa dijual duaratus atau tigaratus perak saja, kulaknya lebih murah lagi, saya masukkan saja pada tempat itu karena bentuknya mirip-mirip.

Untungnya lebih banyak daripada dijual terpisah, menarik anak kecil untuk putar-putar di situ, dan lebih praktis bagi anak-anak, terutama yang masih kecil, pokoknya kalau bawa uang seribu dapat dua, apapun pilihannya. Kalau di rak sebuuuu dapat satu.

Pancing anak-anak, orang tua pasti ngikut” apalagi kalau anaknya sampai nangis, kakeknya ikutan turun tangan (ke kantong)

PROMO HARGA

Kesimpulannya, Intisari bisnis ritel adalah ketersediaan barang, masalah harga tidak semua harus bersaing murah, tentukan item tertentu dan buat promosi.

Pilih yang banyak manfaatnya serta sensitive harga, misalnya berikan promo pada susu bayi karena termasuk kebutuhan yang harganya sangat berpengaruh.

Kalau anak sudah lahir, urgennya melebihi kebutuhan orang tua, susu tidak boleh telat dan jadi kebutuhan utama, harga termasuk pertimbangan untuk pindah ke lain toko. Diskon pada susu juga membantu orang yang kurang mampu, jangan diskon pada rokok atau kertas gaple.

Kalau ibu-ibu sudah belanja susu bayi di tempat kita kebutuhan lain pasti ngikut, dan lagi, belanja susu pasti rutin, belanja yang lainnya pun pasti ikut rutin, lalu ngajak suaminya, nyuruh anaknya yang lebih besar, bahkan kalau gak ada waktu sampai titip tetangga.

Itu namanya narik langganan, kalau toko sudah ramai siapkan aksi ambil untung pada barang-barang subtitusi, misalnya bolpoin, buku, nota, dan lain-lain seperti cerita Kemaren.

Minimarket memang bukan stasionery, bukan toko bahan bangunan bukan pula toko pakaian, jadi wajar bila agak mahal sedikit asal pantas dan kita pintar mengemasnya.

Rambah alat-alat yang berhubungan dengan hoby. Sederhana saja macam mata pancing, senar dll, peluru atau gotri, senar gitar dll. Bola plastic, bola ping pong, bola mainan anak-anak, dan raket beserta kok nya. Tidak perlu lengkap dan detail macam toko olah raga, asal ada dan menyediakan.

Jual materai, satu ini remeh tapi menguntungkan, tidak makan tempat, modal ringan, juga jadi pembeda dengan yang lainnya. Kalau bisa pasang tulisan ”Sedia materai” di tempat yang terlihat, supaya orang ingat saat membutuhkan, di minimarket itu lho jual materai.

Sebetulnya, INI RAHASIA!!! (rahasia kok di-umumkan) strategi minimarket justru pada barang-barang palen atau kebutuhan non sembako itu, sebab margin labanya bisa agak tinggi.

Laba sembako hanya cukup untuk bayar opersional dan kebutuhan sehari-hari kita, sedang untung dari barang-barang non sembako tadi bisa dibuat pengembangan usaha.

Pada saatnya kita harus belajar marketing ringan seputar usaha kita ini, dan itu akan kita obrolkan lebih detail lain waktu.

ACTION NOW!!!

Itulah cerita saya memulai perjalanan bisnis minimarket dari nol dan modal seadanya. Sekedar cerita ringan, petujuk praktis berupa tips atau langkah-langkahnya, semacam tutorial, insyaAllah kalau sudah sempat saya buatkan.

Awalnya kisah ini saya bagi pada karyawan dan tim kerja saya, mereka senang dan merasa termotivasi, kalau saya yang penuh keterbatasan ini bisa, seharusnya anda semua lebih bisa lebih baik dari saya.

Mulai dari yang kecil, dan segera kerjakan. Dari yang paling ringan, segera mulai lebih baik daripada sekedar diangan-angan.

Sama dengan perjalanan Minimart saya ini mulanya juga kecil, gak karu-karuan bentuknya, gak pantas disebut toko, lokasinya di pucuk gunung, penduduknya masih ndeso, asing dengan hal baru, masuk minimarket saja sandal dilepas, tapi show must go on, yang penting action saja, kalau menunggu semua sempurna, ya tunggu saja.

Setiap orang dalam perjalanan hidup, termasuk usahanya pasti mengalami kendala, banyak rintangan dan keterbatasan, tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Mau kita anggap sebagai hambatan mengganggu, membuat kita berhenti atau balik kucing.

Atau jalani dengan enjoy, menikmatinya macam berpetualang, seperti kisah perjalanan Bancpacker Bisnis ini…

Selamat menikmati perjalanan Backpacker bisnis anda.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *