Pembajakan Secara Militer (Minimarket bag-6)

Backpacker Bisnis Minimart 6

FISIK sudah, saatnya kita urus dagangannya agar bisa menyamai barang Minimarket, kalau bisa lebih baik, supaya ada nilai lebih kita dari minimarket umum itu.

Sebenarnya lengkap tidaknya dagangan itu relative, menyesuaikan kebutuhan masyarakat sekitar, cuma supaya ada standartnya, daripada pusing bereksperimen apa yang harus dilengkapi, enaknya kita tiru saja, sebab yang dipajang di toko ritel modern itu, sudah pasti melalui survey dan hasil perhitungan yang matang.

Kerjasama dengan Minimarket tersebut tidak mungkin, saya sudah pernah mencobanya, kulakan di minimarket itu juga tidak bisa, bukan grosir.

Lantas jurus apa lagi yang bisa diandalkan, mari kita tonton bersama.

Karena menempuh jalan normal sulit terpaksa pakai cara “pembajakan” secara militer. (apa lagi ini)

Jadi saya pergi ke salah satu minimarket terdekat dengan membawa tas besar, masih ingat tas backpack kan? (baca Backpacker Bisnis Minimart  bag-2) saya ambil jualannya, masing-masing lima biji, kalau harganya mahal dan variannya banyak ambil satu-satu saja, sesuaikan dengan kondisi permodalan kita.

Satu minimarket saya jelajahi, dagangan apa yang saya tidak punya, kalau di toko sudah ada, lewati, kalau belum, ambil dulu, besoknya saya cari di tempat biasa saya kulakan, sebab harganya terpaut, saya kombinasi dengan barang dagangan di pasar. Minimart hanya sebagai rujukan saja.

Waktu itu minimart masih jarang, adanya di kota, agak jauh juga saya membajaknya, cari yang baru buka, masih banyak harga promonya, kalau sudah lama buka harganya sudah normal, sebagian besar malah lebih mahal, jauh harga jual kita, apalagi dari kulaknya.

Lantas bagaimana kita dapat untung kalau harganya lebih mahal dari yang kita jual, awalnya saya cuek, sebab tujuan utama memang “membajak” barang mereka, supaya toko kita mendekati minimarket.

Lama-lama jengah juga, masak mau buntung terus, lalu ketemulah cara “sipil” saya mengakalinya pada barang PROMO seperti 2 gratis satu, beli barang ini gratis barang itu, dari situlah saya ambil untung, sebab sebagian besar barang yang kita beli di situ bukan harga grosir walupun dijual lagi.

Supaya dapat diskon lebih, saya daftar member, lumayanlah potongan harganya, paling tidak bisa ngumpulkan poin, yang satu saat bisa diuangkan dalam bentuk barang, atau bonus tertentu.

Ada sih satu cara lagi supaya dapat untung banyak saat belanja di Minimarket, pakai kartu kredit atau kartu debit bank-bank tertentu, cuma penjelasan teknisnya ribet sekali, supaya tidak kehilangan fokus saya ceritakan khusus nanti.

Nah, saya lengkapi dagangan saya dengan cara tersebut, pelan-pelan, tidak langsung bisa menyamai sih, tapi lambat laun terlihat ada hasilnya. Begitu juga tata letak barang dagangan saya buat mendekati ala minimarket tersebut.

Jadi secara dagangan, toko saya sudah bisa menyaingi minimarket, sebagian malah lebih, sebab toko tradisional punya kearifan lokal, bisa menjual barang yang tak dipunyai minimarket modern, seperti…” karbit”

Mana ada toko modern jual karbit. Di desa, banyak orang membutuhkan karbit untuk membuat pisang lebih cepat masak, kadang juga buat mercon “petasan” bumbung anak-anak desa.

Kita kulaknya bongkahan besar seperti batu, lalu kita tumbuk seperti kerikil koral, terus kita kemas kecil-kecil untuk dijual eceran, itu untungnya banyak sekali, dan toko modern tak punya.

Di minimarket modern tidak kita temui krupuk yang aneh-aneh, seperti dijual di pasar, di toko kita ada, sebab dititipi oleh UKM sekitar, jadi untuk pemberdayaan masyarakat lokal, jelas lebih bagus minimart tradisional.

Satu lagi… “Menyan” mana ada minimarket jualan menyan, padahal… (sudah ah)

Nah kalau ingin show of force meniru minimarket, mulailah dulu dari mie instan, sebab mie banyak variannya, murah, dan mudah ditata dengan menarik, pasang berjajar rapi di salah satu bagian rak tersendiri, penuhi rak anda dengan banyak varian mie, mie instan saja sudah cukup memenuhi satu deret rak gondola.

Saya dulu untuk menambah varian mie, mengorbankan diri belanja di hipermart yang jaraknya jauh dari desa saya. Sampai lebih dari 23 macam varian, seperti mi goreng abon yang punya pelanggan tetap, mi goreng rawon, mi goreng sate.

Toko lain tidak bisa menyaingi, di pasar tidak ada, dan yang terpenting ternyata laku, dan ada penggemarnya, orang kan butuh variasi. Kalau kita bisa menyediakan satu nilai lebih tersendiri bagi toko kita.

Beralih ke sistem pembayaran.

Yang mencolok belanja di minimarket adalah sistem pembayarannya, kita ambil barang ini itu sesuai kebutuhan. Lalu bayarnya, barang tinggal didekatkan pada mesin barcode, muncul sendiri harganya di komputer, otomastis terjumlah, keluar struk, bayar.

Tidak seperti warung kelontong tradisional yang harga pakai ingatan, totalan menggunakan kalkulator, kalau tidak, cari sobekan kertas bekas bungkus rokok, ngitungnya pakai “porogapit” sekalinya belanjaan banyak, lamaaa sekali ngitungnya, kadang diulang beberapa kali, takut salah.

Apalagi kalau yang jaga toko bukan yang biasanya, anaknya atau suaminya… kalau ngitung tanya harga sambil teriak “Buk, Gudang Garam harganya berapa?” yang jawab di dapur tercium bau terasi “Satu kilo 7000”

“Lho masak 7000” teriak anaknya balik

“Ya kalau garam bungkus 5000 saja”

“Gudang garam bu…  bukan garamnya, gudang bu gudang….” teriaknya lagi

“Ha? kutang?? kita tak jual Kutang!!!”

Haduh!!!

Saya punya computer jadul, sudah lama tak tersentuh, dulunya untuk ngetik dan kebutuhan tertentu saja, spek dan modelnya sudah sangat kuno, tapi tak apalah karena ingin toko saya seperti minimarket jadilah saya pajang computer di meja kasir.

Padahal mulanya hanya untuk mainkan music winamp, sekedar masukkan data barang, itung-itungan jumlah pakai exel, tapi kesannya sudah seperti minimarket banget.

Lalu oleh adik saya ditambahkan program kasir, awalnya membuat sendiri pakai exel office, Belakangan ini sudah banyak program kasir yang bisa di download gratis. (yang ingin info lebih tentang ini bisa email)

Karena sudah ada komputernya pelan-pelan kita lengkapi dengan mesin Infra Red Barcode, yang bisa baca harga barang tinggal “Ting” lalu kita tambahkan printer, dan koneksi internet.

Internet yang nantinya bisa dibuat jual pulsa online, token listrik, bayar angsuran kerdit, tiket pesawat dll (lihat di episode Backpacker Bisnis PPOB dari Nol dan Tanpa Modal)

Face Off

Yang paling elementer metamorfosis toko jadi minimarket adalah perwajahan, tata letak barang, dan sistem pengelolaannya. sebab kalau sekedar barang dagangan saya kira yang dijual Toko dan Minimarket hampir sama, itu-itu juga.

Makanya tata letak barang dagangan, desain perwajahan minimarket sangat berpengaruh. Karena waktu itu memulainya dari Nol dan modal terbatas, kita pakai sistem gerilya, perubahan wajah toko ke arah minimarket, dilakukan bertahap dan terukur biayanya.

Saya istilahkan dengan Face Off, merubah wajahnya saja, tidak perlu merombak struktur bangunan secara keseluruhan. Sekali lagi ini harus dilakukan secara terukur jangan sampai overbujet bahkan berlebihan.

(Lain waktu saya uraikan bagaimana bisa merubah perwajahan toko mendekati minimarket, tanpa modal, malah kadang kita yang dapat uang)

Jadi wajah tokonya saja yang dirubah seperti minimarket, tidak perlu merobohkan bangunan, sedangkan perubahan bagian dalamnya lebih simple, ruangan terbuka tanpa etalase, rak rak gondola, sekat-sekat dihilangkan, gantungan tidak ada, rak dagangan berjajar rapi, deretan kulkas disendirikan, meja kasir di dekat pintu masuk dan keluar.

Wajah depan kaca-kaca dengan tampilan cat yang identik, putih bersih, atasnya bergaris merah dan putih atau ada tambahannya kuning dan biru macam indomart.

Tidak perlu biaya mahal untuk mewujudkan itu, yang  ingin info lebih banyak tentang face off bisa konsultasi lebih lanjut via email.

Sebab kalau kita salah langkah sedikit saja, waktu, tenaga dan biaya akan habis di awal saja, terkuras di bangunan, padahal belum apa-apa. Intisari Toko atau Minimarket adalah barang yang dijual.

Makanya harus kreatif mengelola barang dagangan kita tidak asal jual, beberapa langkah urgen yang perlu dijalankan adalah:

Packing sendiri.

Ini salah satu cara jualan supaya dapat untuk lebih banyak, belilah camilan kiloan, biasa dijual di tempat kulakan jaja-jajan kering, lalu packing sendiri sesuai keinginan.  Kalau telaten cari  pabriknya, yang home industri saja, biasanya lebih murah.

Cara lebih praktis adalah dengan meniru snack titipan, kita tiru kemasannya, ukurannya, serta gramnya, sekaligus harganya. Kemudian lambat laun yang titipan kita kurangi sambil kita masukkan packing kita sendiri.

Demikian juga dengan sembako. Gula sudah pasti kiloan. Beras, beli karungan lalu kita packing ulang dengan varian 5 dan 10 kg, dengan kemasan niru modern, plastiknya yang tebal, kalau sablon merek mahal, pakai foto copy saja, buat merk sendiri contoh “Beras Sawah” atau “Beras Punel”

Juga Telur, kulaknya “peti-an”, jualnya bijian, mau sedikit keren pakai kemasan plastik mika khusus untuk telur,  tambah varian telur kampung, telur bebek, telur asin dan telur puyuh, mantap sudah.

Kurma, kalau momen Ramadan tiba, kurma sangat ampuh jadi mesin uang, beli kartonan di grosir kurma lalu packing pakai plastic mika kecil-kecil supaya murah meriah, atau bungkus sedang untuk oleh-oleh. labanya manis, semanis kurma. Bisa untung 2 kali lipat.

Dan banyak lagi, itu hanya beberapa contoh saja.

Palen

Ini istilah saja, biasanya toko itu jualan utamanya sembako, sebagai pelengkap kita juga jual barang non sembako, contoh: sediakan tampar, potong sendiri beberapa meter, buat varian, 5 M, 10M, lalu kemas.

Sediakan juga tali ravia cari yang siap jual. Lalu jarum, benang, dom bundle, peniti, bros, dll. Harganya tidak perlu bersaing, sedikit bisa lebih mahal sebab bukan toko yang spesialis jualan itu.

Perlu juga disediakan: Handuk Kecil, sapu tangan, Kaos kutang, mungkin juga pakaian dalam, sandal beberapa pilihan yang menarik, dan cukup beberapa item saja.

Kalau ingin lebih sip, tambahkan paku, sekrup beberapa ukuran, yang sudah dipacking, pines, gembok, grendel, meteran dsb, tata pada rak gantung tersendiri. Tidak perlu selengkap toko bangunan, tapi ada, barang barang ini sangat mendongkrak laba, sebab harganya tidak umum.

Sediakan alat tulis, buku, bolpoin, buku gambar, penggaris, kertas kado, map, kwitansi, solasi, dll selengkapnya, tapi tidak perlu berlebihan sebab toko kita bukan stasionery, pembeli maklum kalau tidak terlalu banyak pilihannya, yang penting ada.

Alat listrik ringan juga, Bohlam lampu, pitingan, isolasi listrik. Steker, pitingan, dan kabel dengan ukuran umum saja, tidak perlu menyediakan kabel tembaga besar atau trafo PLN.

Supaya praktis dan menarik barang-barang tersebut dipacking, dikemas yang menarik. Seperti jual paku itu jangan dijual kiloan dan ditaruh pada rak kotak-kotak kayu macam toko bangunan, tapi diwadahi kecil-kecil, diberi label harga dan dikelompokkan pada rak gantungan, beri petunjuk supaya orang mudah menemukan barang yang dicarinya.

PROMO

langkah selanjutnya adalah PROMO, ini penting sekali, barang dagangan penuh, tertata rapi dan menarik tidak ada artinya kalau sekedar jadi pajangan dan gagah-gagahan, ini lho barangku komplit.

Nah kita promosikan juga kepada anda untuk lanjut mengikuti kisah ini supaya anda tahu bagaimana bentuk “promo” jualan di Minimarket perjuangan yang aneh-aneh dan menarik.

Sampai jumpa lagi minggu depan ya…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *