Sulit Bukan Berarti Tidak Bisa kan? (Minimarket bag-5)

Backpacker Bisnis Minimarket 5

Kala itu baru muncul satu dua minimarket modern. Penampilan tokonya menarik, masuk langsung adem, suasananya nyaman, lampu terang benderang, penataan barangnya rapi disertai label harga, ada program promo, diskon harga, plus pelayanan yang ramah. Siapa tidak kepincut punya bisnis macam ini.

Sudah lama saya mendambakan punya usaha macam ini, tapi karena merasa masih jauh dari jangkauan, saya anggap baru sebatas mimpi.

Saat harus menentukan arah pengembangan toko, terbersit untuk memulai bisnis minimarket ini. Saya memang gatal kalau usaha itu begitu-begitu saja, dalam arti tidak ada pengembangan yang berarti.

Kebanyakan orang di tempat saya, begitu usaha sudah jalan, dianggap sudah berhasil karena sudah punya usaha, ya sudah itu yang digeluti tiap hari, tidak berani eksperimen yang macam-macam, akan dipertahankan sampai hari tua.

Bagi saya, Toko saya saat ini belum apa-apa, harus dikembangkan lagi, sedangkan grosir sementara waktu dimentokkan oleh Koh Ahong, Minimarket kini terlihat paling prospektif, tapi bagaimana caranya ya?

Terus terang telah saya ceritakan kemaren, saya memulai usaha Toko ini dari Nol sesungguhnya, tak ada modal, gak ada pengalaman, gak ada yang mengajari, tak ada relasi, serta miskin koneksi.

Keluarga besar kami, yang kelihatan paling moncer usahanya adalah pedagang sayur, sedang teman, ada yang sukses, jadi petani tebu dan padi berhektar-hektar.

Kalaupun ada yang jadi pedagang, bentuknya hampir sama dengan usaha kami, yaitu Toko sembako, Toko Baju di Pasar, agak beda dan kelihatan maju sedikit buka Toko Emas.

Ingin belajar langsung kalau tak punya relasi memang susah, informasi seputar usaha minimarket juga masih sangat terbatas, referensi buku belum ada.

Sedang Mbah Google belum sesakti sekarang, masih semedi mungkin, belum ada web khusus yang membahas usaha Minimarket secara detail, apalagi memberitahu cara memulainya dari Nol seperti Blog ini, Belum ada.

Semangat pantang surutlah yang membuat saya menemukan jalannya…

Ya, jalan menuju warung yang biasa digunakan karyawan minimarket istirahat, saya buntuti mereka saat makan siang, ternyata lokasinya tidak jauh dari minimarket itu juga. (Asem! ternyata jalan menuju warung)

Sambil makan dan basa-basi ringan saya ajak mereka ngobrol, walaupun masih sangat minim informasi yang saya dapat, tapi lumayanlah, sebab mereka ngakunya cuma karyawan biasa, kalau mau tanya lebih jauh di atas mereka ada kepala toko.

Ketika saya minta nomor telepon atau alamat pemiliknya, jawabnya malah membuat saya penasaran, mereka sama sekali gak pernah bertemu pemiliknya, mereka bilang pemiliknya tahunya beres, tinggal dapat laporan dari manajemen dan terima hasil.

Saya makin penasaran, bagaimana caranya punya usaha macam minimarket ini ya? Pemiliknya jangankan ikut jaga toko, nengok usahanya saja sangat jarang sekali, untuk mengatakan tidak pernah sama sekali. Terima beres semua, tinggal tunggu hasil dan laporan saja.

Demi mendapatkan informasi lebih jauh saya mengorbankan toko tutup sehari penuh, mengikuti saran kepala minimarket kemarin, saya pergi ke surabaya mencari kantornya, yang menuju lokasinya saja harus bertanya lebih 10 kali.

Kita ditemui oleh manajer bagian, kami diberi brosur, dan dijelaskan agak panjang juga, intinya untuk investasi dana awal, kata dia, berdasarkan simulasi investasinya dana yang dibutuhkan berkisar antara Rp 397 juta – Rp 417 juta tergantung luasan lokasi.

“Investasi ini di luar dari propertinya dan di luar renovasi bangunan, mengingat properti dan lokasi sudah disiapkan duluan.

Jadi investasi tersebut untuk mengisi bangunan supaya bisa operasional minimarket.

Untuk tipe gerai 36 rak dengan luas area sales 80 meter persegi investasinya adalah Rp 397 juta, sementara tipe gerai 45 rak dengan luas area sales 100 meter persegi maka dibutuhkan dana investasi sebesar Rp 417 juta,” katanya

itu kalau lokasi punya kita, kalau belum ada ya cari dulu, atau kalau kita ada pandangan lokasi, harus disurvey dan uji kelayakan, sewanya kurang lebh sekitar 400 juta selama lima tahun, belum renovasi bangunan.

Total Modal biasanya dibutuhkan 500 juta sampai 1 Milyar untuk memulai, selanjutnya tinggal bayar royalti, istilah baru bagi saya.

Saya menelan ludah menyimaknya. Untungnya masih dapat ide menawarkan tempat saya, walaupun lokasinya di desa tapi lumayan strategis, sudah ada tokonya, pelanggannya juga banyak, membuat saya agak Pede.
Oke, Pak manajer bagian itu menjanjikan untuk survey lokasi.

Masih terngiang kata-kata minimal 500 juta, itu hanya franchese saja, belum renovasi dll, membuat saya harus realistis dan berpikir ulang, setelah binis mulai jalan, baru kita boleh “Kakean Polah” tapi kalau modal sebesar itu ya dari mana dapatnya.

Rasanya bakal mentok lagi ide minimarket ini,  Sebetulnya saya sudah sangat bersyukur, dari asalnya warung kelontong sekarang sudah pantas disebut toko, waktunya naik pangkat menjadi minimarket.

Tidak ada masalah juga dengan toko atau minimarket, sebab toko sekalipun kalau rezekinya bagus oke saja, tidak harus jadi minimarket.

Bukan istilahnya, tapi hakikatnya, maksudnya bagaimana memililki usaha dengan tata kelola macam minimarket, itu yang sedang saya incar.

Perhatikan kebanyakan toko model lama, makin lama makin suram dan kusam, makin tua pemiliknya, makin sepi dan berdebu.

Kalaupun laris dagangannya, seperti punya Koh Ahong itu, pemiliknya makin tidak punya waktu luang, sibuk di toko, menghadiri kondangan saja sampai diwakilkan, atau sekedar titip amplop.

Nah, yang saya maksud ‘ngimpi’ pingin usaha seperti minimarket adalah sekaligus sistem usahanya bukan sekedar model rak dagangan dan desain tokonya saja.

Dalam pengamatan saya, minimarket modern adalah usaha yang sudah bisa jalan sendiri, walaupun pemiliknya tidak ikut jaga toko, tidak perlu begadang, totalan, setokan, dan pusing mengurusi banyak tagihan.

Mana ada pemilik Indomart atau Alfamart sibuk belanja, kulakan memanggul barang belanjaan dari pasar, menata barang di rak, bikin label harga, membagi-bagikan kertas promosi dari pintu ke pintu seperti usaha modern ini.

Nah, pengembangan usaha Toko bisa dimulai dari minimarket, kalau minimarket sudah jadi, lengkap dengan sistemnya, sudah punya waktu luang, pelan-pelan akan saya pelajari usaha Grosirnya, saya ikuti saran Koh Ahong untuk tidak gegabah langsung ber Grosir ria.

Tapi survey dari pihak Alfamart tak datang-datang, tanpa kabar lagi, saya merasa dikecewakan, mereka anggap tempat saya masih terlalu pelosok, belum memungkinkan atau kurang menarik.

Saat gundah gulana itulah Adik saya mendorong kami untuk merintis sendiri, Adik sayalah yang berperan penuh atas perjalanan MiniMart selanjutnya, sebab dia lah yang berinisiatif merintis sendiri, tapi karena sama-sama belum punya pengalamannya, jadi ya sama-sama bingungnya.

Sulit memang, tapi bukan berarti tidak bisa kan?

Mampukah saya mewujudkan impian saya menyulap toko saya jadi minimarket? tanpa harus bayar franchesee fee 500 juta. Tanpa harus muter-muter, artinya saya harus Merintis usaha minimarket dari Nol dan Tanpa Modal besar.

Padahal kala itu untuk mendukung survey dari mereka, toko sudah saya rombak, etalase sudah saya bubrahi semua gantungan-gantungan sudah saya babat habis.

Toko sudah kelihatan lapang, tapi dagangan amburadul semua, barang tercecer di mana-mana, sebab rak rak dan etalase sudah saya bongkar, tahu-tahu saya bingung bagaimana melanjutkannya.

Orang tua mulai ngomel-ngomel, rak dan gantungan hasil karyanya dibubrahi. “Orangnya masih hidup kok hasil karyanya sudah dirusak, tidak menghargai sama sekali”

Pelanggan juga banyak yang bertanya-tanya ada apa ini kok seperti kandang bubrah.

Kepalang tanggung, nasi sudah jadi bubur, bubur sudah hancur, dikasihkan makan ayam, ayam disembelih untuk selamatan. (hop..hop!)

Gerilya minimarket harus dimulai, sabelum merombak penampilan toko ala minimarket, yang saya dahulukan adalah menata barang dagangan seperti minimart, sambil pelan-pelan mengubah tata letak dan layoutnya.

Toko jaman lawas adalah toko serba ada yang diambilkan, barang dipajang pada rak-rak dan etalase tertutup atau digantung, semakin banyak gantungan semakin meriah, sebab pembeli mudah melihatnya, kalau pembeli membutuhkan sesuatu, tinggal tunjuk baru diambilkan.

Kebalikannya toko jaman sekarang, model swalayan seperti minimarket. Pembeli mengambil barang sendiri, menyentuh dagangan di rak, menimbang-nimbang dan membandingkan harga sendiri, membaca spek produk, baru memutuskan untuk membeli yang mana.

Jadi perlahan perwajahan toko mulai saya rombak, dengan tanpa banyak biaya, sekali lagi perombakan toko harus tanpa banyak biaya, bisnis tanpa modal jangan sampai uang habis di awal, untuk keperluan mati yang tak bisa diuangkan lagi.

Rak-rak besar dari kayu kemaren sudah saya bongkar semua, etalase saya geser ke pojok dinding, ruangan jadi luas dan terbuka, menyisakan etalase di meja kasir, kaca etalase yang besar saya ambil kacanya saja, saya gunakan sebagai penutup depan supaya mengurangi debu masuk toko, macam gerai minimarket yang wajah depannya kaca semua.

Pintu masuk saya pusatkan di tengah macam Minimart, untuk sementara saya buka terus, supaya orang tidak ragu ini buka atau tutup, sebab toko biasanya macam bedak terbuka semua kini ada pelindung kacanya, macam punya minimarket, bedanya kaca yang saya gunakan adalah kaca bekas seadanya, sambung-sambung, dan masih ada pegangan gesernya.

Sebagian etalase saya jual, tepatnya saya barter dengan barang yang lebih saya butuhkan, lalu tata letak dagangan toko saya buat mirip mini market, dagangan yang digantung saya sikat semua, gantungannya juga sudah tidak ada, langit-langit tampak terang.

Rak dagangan di tengah saya buat rendah sehingga pandangan ruang terlihat luas, bisa melihat sekeliling toko dengan leluasa sebab gantungan sudah gak ada, untuk sementara, karena tak ada biaya, saya buat gondola dari tumpukan kardus bekas.

Setelah dirombak baru kelihatan aslinya, tembok toko penuh dengan tempelan stiker iklan zaman lawas yang tidak sempat diganti, di tempel lagi, ditumpuki lagi.

Aneka ragam reklame itu saya singkirkan, tembok saya cat putih, cari yang murah saja asal kelihatan putih dan bersih, untuk menyamarkan bopeng-bopeng tembok saya beri garis setrip merah dan biru mirip punya Indomart sebagai penambah aksen toko.

Dagangan mulai saya setting agar pembeli bisa ambil sendiri, kecuali rokok dan obat-obatan, beserta barang-barang kecil yang khusus dan rawan, masih diambilkan, di belakang kasir.

Sebagian besar sudah swalayan, ambil sendiri. Saya kelompokkan, makanan ringan sendiri, sabun-sabun dan detergen saya taruh di rak terbawah, roti dan makanan oleh-oleh yang warna warni saya beri space agak mencolok supaya menarik.

Butuh waktu untuk mengedukasi pasar, agak lama juga orang mau mengambil sendiri barang yang dibutuhkan dan membawanya ke kasir, sebab kebiasaan lama pembeli selalu di luar toko karena dibatasi etalase, tidak berani masuk area pedagang, agak tabu.

Sekarang sebaliknya etalase kita pojokkan ke dinding menjadi pengganti rak atau gondola, memaksa pembeli masuk ke dalam.

Walaupun sudah saya persilahkan untuk masuk dan ambil sendiri, banyak pembeli masih minta diambilkan dan tidak berani masuk toko, ya kita harus sabar melayani, sampai pelanggan terbiasa.

Nah lay out sudah, Toko saya sudah terlihat lebih cerah,  belum bisa dikatakan minimarket memang, tapi perubahan nyata terlihat, mulai jadi pusat perhatian, jangan sampai kehilangan momentum, tinggal sekarang bagaimana menyamai dagangan minimarket.

Ini tantangan berikutnya, Bersambung…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *